Belajar dalam Mengajar bersama pendiri Sekolah Rimba
Hallo semua, kali ini, saya akan membagikan sedikit yang saya terima dari kuliah umum bersama Kak Butet Manurung, seorang aktivis pendidikan dan pendiri Sokolah Rimba.
Kuliah umum yang bertema "Motivasi Guru dalam Mendidik: Belajar dalam Mengajar" ini diselenggarakan oleh Kemdikbud RI dalam rangka pembekalan PembaTIK Level 4: Berbagi. Pada hari Selasa pukul 10.30 - 12.00 WIB.
Kak Butet membuka dengan pengalamannya bersama anak rimba. Kak Butet bercerita tentang gesitnya anak-anak Rimba, pakaian anak rimba yang hanya memakai cawat, bagaimana cara belajar anak anak rimba, bagaimana cara mereka hafal nama nama binatang, disini anak anak kecil menangkap binatang binatang kecil dengan jerat jerat kecil.
Anak anak rimba belajar bagaimana cara bertahan hidup. Kak Butet meneruskan pengalamannya saat mencoba menawarkan baca tulis tetapi ditolak karena mereka takut dengan setan bermata runcing (sebutan bolpoin oleh anak rimba) dan menganggap pelajaran yang tidak terkait dengan bertahan hidup tidak berguna, walau mengalami penolakan beberapa kali selama 7 bulan, kak Butet tetap berusaha dan tidak menyerah, kak Butet melakukan pengamatan aktivitas mereka di pasar bagaimana mereka tidak bisa menghitung kembalian, bagaimana mereka ditipu untuk menjual lahannya karena tidak bisa baca tulis, dll. Singkat cerita kak Butet meyakinkan bahwa untuk melawan setan bermata runcing mereka harus menguasai setan bermata runcing.
Pembahasan Kak Butet kemudian mengerucut pada seharusnya pendidik dapat menyesuaikan diri dengan peserta didik, bukan malah sebaliknya. Dengan memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik, maka pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Sebagai contohnya, Kak Butet menceritakan bagaimana dirinya mengajar anak-anak Rimba. Metode yang dipakai oleh Kak Butet adalah metode berbasis masalah. Dengan menjadikan penghadapan masalah sebagai media pengajaran kepada anak-anak Rimba, maka Kak Butet dimudahkan dalam menjelaskannya. Selain itu, anak-anak Rimba pun dapat langsung mempraktikkannya. Dalam kata lain, seorang pendidik seharusnya dapat mengajarkan materi secara kontekstual.
Kak Butet menekankan pada pembelajaran kontekstual agar peserta didik tidak terjebak pada istilah sekolah untuk pergi, ini adalah istilah dari orang rimba yaitu fenomena orang-orang yang dulu pergi ke kota untuk menuntut ilmu dan kembali ke desa dengan begitu asing. Ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah tidak dapat diterapkan di masyarakat. Hal ini yang mestinya dihindari. Oleh karena itu, setiap kegiatan pembelajaran harus dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran harus konstektual dan berdampak dimasa sekarang bukan untuk di masa 20 tahun lagi.
Kak Butet meneruskan bahwa seorang pendidik harus mempunyai kecakapan untuk melihat kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik.
Seorang pendidik harus belajar terus-menerus. Belajar di sini dimaksudkan dengan terus memperbarui cara-cara mengajar yang disesuaikan dengan konteks peserta didik yang dihadapi. Apabila seorang pendidik mengajar dengan cara dan materi yang sama selama bertahun-tahun,
Kak Butet mengatakan hal itu bukan pengalaman mengajar. Akan tetapi, baru bisa disebut sebagai pengalaman mengulang mengajar.
Inti dari pemaparan Kak Butet adalah pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik, bukan pendidik.
Untuk lebih lengkapnya simak pembahasan di bawah mulai menit 1.25.09 sampai selesai.
Sumber : youtube channel Rumah Belajar Kemdikbud
- IG : Rumah Belajar Kemdikbud IG
- FB : Rumah Belajar Kemdikbud FB
- YouTube : Rumah Belajar Kemendikbud YT
Merdeka Belajarnya, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia!
#RumahBelajar
#PembaTIK
#PembelajaranBerbasisTIK
#DutaRumahBelajar2020
#SahabatRumahBelajarJawaTimur2020










0 komentar:
Posting Komentar