SERTIFIKASI = KEMUNDURAN PRESTASI SISWA
Menyambung artikel yang kemarin saya posting, tentang PNS dan GTT. Soal guru sertifikasi yang telah berjalan saat ini dimana gaji PNS dikalikan 2 kali lipat, jadi gaji 1 orang guru gajinya rata-rata 6 juta per bulan.
Soal sertifikasi ini diakui atau tidak telah menimbulkan kecemburuan sosial antar guru PNS maupun GTT yang merasa semakin di zholimi. Bagaimana tidak, guru sertifikasi yang dianggap sebagai guru super yang profesional sehingga kerjanya di hargai dua kali lipat ini masih sangat banyak yang kinerjanya kurang mumpuni. Kerja sama tapi gaji selangit. Kalau kita mau jujur pasti banyak yang tidak adil dalam hal ini..
Coba kita lihat dalam kenyataan masih banyak guru sertifikasi yang metode pengajarannya monoton, bahkan di era perkembangan teknologi dimana pengajaran banyak yang berbasis IT masih ada juga guru sertifikasi yang buta akan IT, bahkan pernah saya ditanya oleh salah seorang guru sertifikasi “Laptop itu apa mas??”, “Flashdisk itu apa mas?” dll. Bahkan masih kita temui RPP guru Sertifikasi hanya copy-paste dari guru lain, Kinerja guru sertifikasi yang asal-asalan itu memancing reaksi guru PNS yang belum sertifikasi untuk ikut malas-malasan juga, “kenapa kerja berat-berat, lha wong yang begitu-begitu aja dapat sertifikasi” (saya kutib dari perkataan salah satu guru PNS). Yach akhirnya siswa kita yang dirugikan. Bahkan muncul ungkapan “Bayaran dulu baru siswa”. Gak percaya, coba aja perlakukan guru PNS layaknya guru GTT selama 2 bulan aja, gaji mereka gak dibayar 2 bulan aja pasti mogok kerja gak ngajar. Itu membuktikan bahwa ungkapan bayaran dulu baru ngajar adalah benar adanya. Inilah yang saya maksud dengan "Sertifikasi = Kemunduran Prestasi Siswa". Akan tetapi harapan saya guru sertifikasi bisa paham tanggungjawabnya lebih besar dan jangan hanya asal dalam bekerja, sedangkan guru PNS juga jangan iri terus, gaji PNS sudah puluhan kali lipat gaji GTT, masak kalah semangat dengan GTT??
Bulan ini gaji PNS naik lagi 10% sedangkan gaji GTT turun lagi akibat diterapkannya aturan yang ketat dalam pembatasan belanja pegawai. Yach itu yang terjadi di Indonesia tercinta ini. Kenapa harus ada anggaran sertifikasi yang sangat besar jika program itu tidak ada pengaruhnya terhadap guru yang disertifikasi. Kenapa tidak dipakai untuk mengangkat GTT menjadi PNS saja ya??
Di Tuban tempat saya dan teman-teman bekerja saat ini sangat berharap adanya kebijakan pemerintah, dimana kesenjangan ini tidak berlarut-larut. Calon Bupati Tuban terpilih dalam janji politiknya mengatakan, dimasa jabatannya maka GTT akan memperoleh Honor Daerah untuk mempersempit kesenjangan kesejahteraan antara PNS dan GTT, yach semoga itu bukan hanya janji kosong yang hanya berupa sandiwara belaka. Semoga semua terealisasi secepatnya.amin…
Bagaimanapun hidup harus tetap jalan...
Salam aneh. hohohohohoho....



0 komentar:
Posting Komentar