HOME Rumah Belajar TV Edukasi Suara Edukasi Radio Edukasi M-Edukasi Pena Belajar My Youtube Channel
SELAMAT DATANG DI GUNTUR SALEKSA BLOG, YUK BERBAGI KEBAIKAN BERSAMA
Semua password untuk link download adalah : gunturberbagi
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR YACH

Rabu, 01 Juni 2011

Proposal PTK 01

Judul :

Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan di kelas 1 SDN ____________ Kecamatan ___________ dengan menggunakan model bermain kelereng  

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Mengajar bertujuan agar siswa dapat belajar sebaik – baiknya apabila sarana belajar lengkap sehingga memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik. Mereka belajar sepenuhnya dengan media yang sudah ada sebagai alat bantu pembelajaran agar siswa dapat belajar dengan sebaik mungkin.
Guru dalam menggunakan media harus terampil. Media yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah kelereng, akan tetapi kenyataan banyak siswa yang minat tetapi kurang motivasi pada saat pembelajaran matematika. Siswa lebih suka bermain atau berbicara dengan temanya dari pada memperhatikan alat peraga yang diperagakan oleh guru di depan kelas.
Dari paparan di atas didasarka observasi yang dilakukan di SDN _____________ kelas I Kecamatan ____________ Kabupaten ____________. Berdasarkan data hasil ulangan harian sebagian besar siswa mendapat nilai rendah, dari 25 siswa yang dapat menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan hanya 20 %. Dari hasil ulangan harian nilai mata pelajaran matematika sangat memperhatinkan, karena berdasarkan data nilai yang diperoleh siswa yang mendapat nilai tertinggi 80, nilai terendah 20 dari seluruh siswa diperoleh rata – rata 48,8.
Pengamatan PBM matematika adalah pengamatan awal, selanjutnya pengamatan akan lebih difokuskan lagi dilihat kelebihan dan kekurangannya. Dari pengamatan di atas disimpukan bahwa proses pembelajaran menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan adalah :
1. Siswa kurang paham pada materi tersebut
2. Siswa kurang mampu menghitung pengurangan
3. Guru masih menggunakan metode ceramah sehingga siswa menjadi bosan
4. Guru kurang menguasai materi
Atas dasar proses belajar mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan adalah rendahnya nilai ulangan harian.
Adapun cara yang harus dilaksanakan adalah dengan menggunakan model bermain kelereng dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan diharapkan hasilnya lebih meningkat.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalh di atas, masalh penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah dengan menggunakan model bermain kelereng dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan ?
2. Bagaimanakah hasil penerapan model bermain kelereng dalam pemahaman menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan :
1. Menerapkan model bermain kelereng dengan untuk meningkatkan kemampuan menghitung untuk menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan
2. Mengetahui peningkatan hasil pemahaman dalam menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan
D. MANFAAT PENELITIAN
Bagi Siswa :
1. Agar dapat member suasana dan tantangan baru sehingga siswa lebih berminat dan senang mengikuti pembelajaran.
2. Agar siswa aktif belajar menghitung untuk menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan menggunakan model bermain kelereng.
3. Model bermain kelerengdapat digunakan siswa sebagai alternative untuk memecahkan masalah seperti meneyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan
Bagi Guru :
1. Menambah pengalaman dan tantangan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang aktif dan kreatif
2. Agar dapat menerapkan model bermain kelereng dalam pengajaran menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan
3. Agar dapat memanfaatkan kelereng sebagai model evaluasi
Bagi Sekolah :
1. Untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa
2. Upaya untuk meningkatkan mutu sekolah.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. KAJIAN TEORI
Pendidikan matematika diberbagai Negara, terutama Negara-negara maju telah berkembang dengan cepat, disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang bernuansa sains dan teknologi.
Amerika Serikat telah memulai pembaharuan matematika sejak tahun 1980 (NCTM 1980) melalui suatu gerakan yang disebut “ An Agenda For Action “. Agenda ini memuat banyak rekomendasi yang terkait langsung dengan pembelajaran dan isi kurikulum. Tiga diantaranya adalah:
G.S Problem solving be the focus of school mathematics in the 1980’s , (2) Basic skills in the mathematics be defired to encompass more then computational foality dan (3) mathematic’s program take full advantage of the power of calculators and computers at all grade kids.
Model pembelajaran matematika yang berkembang didasarkan teori-teori belajar.Hakekat dari teori-teori belajar yang sesuai dengan pembelajaran matematika perlu dipahami sungguh-sungguh sehingga tidak keliru dalam menerapkannnya.
Teori-teori belajar itu menjadi tidak berguna jika makna dari konsep-konsep yang dikembangkan tidak dipahami dengan baik.
Jika suatu teori belajar ternyata efektif untuk membantu menolong guru menjadi lebih professional.
Untuk meningkatkan kesadaran guru bahwa mereka wajib menolong siswa mengintregasikan konsep baru dengan konsep yang sudah ada maka teori itu berharga dan patut dipertimbangkan.
Teori Thorndike yang bersifat behavioristik (mekanistik) memberi warna yang kuat perlunya latihan dan mengerjakan soal-soal matematika sehingga peserta didik diharapkan terampil dan cekatan dalam mengerjakan soal-soal matematika yang beragam.
Teori holistic merupakan teori kognitif belajar dan dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran bermakna (meaning full instruction) dari Aussbel, memberi makna perlunya atau pentingnya materi pada ajaran yang bermakna dalam proses belajar karena kebermaknaan dan menyebabkan peserta didik menjadi terkesan sehingga pembelajaran tersebut akan mepunyai masa ingatan (retention spam) yang lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat hapalan.
Dalam proses belajar matematika, Bruner (1982) menyatakan pentingnya tekanan pada kemampuan peserta didik dalam bersifat institutif dan analitik akan mencerdaskan peserta didik membuat prediksi dan terampil dalam menemukan pola (pattern) dan hububan atau keterkaitan (relavation).
Secara jelas Bruner menyebut tiga tingkatan yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasikan keadaan peserta didik yaitu (a)enactive (memanipulasi objek secara langsung). (b) iconic (manipulasi objek secara tidak langsung) dan (c) simbolic (manipulasi simbol).
Peggunaan berbagai objek dalam berbagai bentuk dilakukan setelah melalui pengamatan yang teliti bahwa memang benar objek itu yang diperlukan sebagai contoh bagi anak SD kelas I.
Tentu mereka dalam situasi enactive artinya matematika lebih banyak diajarkan dengan manipulasi objek secara langsung dengan memanfaatkan kerikil, kelereng, manik-manik, potongan kertas, bola, kotak, karet dan lidi, serta hindari penggunaan lansung simbol-simbol huruf dan lambang-lambang operasi yang berlebih.
B. KAJIAN HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN
William Brownel (1935) mengatakan bahwa belajar itu pada hakekatnya merupakan suatu proses yang bermakna ia mengemukakan bahwa belajar matematika itu harus merupakan belajar bermakna dan pengertian.
Edward L Thorndike (1874-1949) Toeri drill dalam pengerjaan matematika berdasarkan pada teori belajar asosiasi yang lebih dikenal dengan sebutan teori belajar stimulus respon.
Ruseffendi (1989,h 23) mengatakan bahwa matematika itu terorganisasikan dari unsure-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma dan dlil-dalil, dimana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif.
C. KERANGKA BERFIKIR
Berdasarkan kajian pustaka diatas maka kerangka berfikir penelitiannya sebagai berikut : Sekolah Dasar ____________ belum termasuk sekolah favorit di wilayah Kecamatan ____________, sehingga siswa-siswa yang masuk ke SDN ____________ rata-rata bukan lulusan TK. Dilain pihak pokok bahasan menyelasaikan soal cerita yang mengandung pengurangan.
Materi dasar untuk mempelajari pengurangan pada kenyataan siswa dituntut harus bisa. Sehingga diperlukan metode khusus dalam pembelajaran agar pembelajaran matematika menjadi lebih menarik dan menyenagkan.
Dengan demikian guru perlu berusahan mencari metode yang pembelajaran yang diharapkan dapat menigkatkan kemampuan berfikir siswa agar terampil untuk memecahkan soal-soal hitungan
D. HIPOTESIS TINDAKAN
Setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model bermain kelereng diduga pemahaman siswa dalam menyelasaikan soal cerita yang mengandung pengurangan siswa kelas I SDN ____________ tahun pelajaran 2009-2010 akan meningkat.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. SETTING DAN KARAKTERISTIK SUBYEK PENELITIAN
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selam bulan April 2010 pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010. Hal ini di sebabkan karena variabel terikat yang diteliti yaitu hasil belajar matematika menyelasikan soal cerita yan mengandung pengurangan terdapat pada semester genap.
2. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini adalah dikelas I SDN ____________ Kabupaten ____________.
B. VARIABEL PENELITIAN
Subyek penelitian adalah siswa kelas I SDN ____________ pada tahun pelajaran 2009/2010.
C. RENCANA TINDAKAN
Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus. Secara umum alur pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi yang digunakan oleh Kemmis dan Taggart (kasbolah,1999)
1. Tahap Perencaaan (planning)
Guru menyiapkan materi berupa buku penunjang materi pembelajaran menyelesaikan soal cerita yang mengandung pengurangan, menyiapkan RPP, media yang digunakan kelereng.
2. Tahap Pelaksaaan Tindakan (action)
Guru menguraikan materi tentang menyelasaikan soal cerita yang mengandung pengurangan dan guru memperagakan cara menghitung dengan alat peraga kelereng. Siswa maju satu persatu untuk menghitung dengan menggunakan kelereng.
3. Tahap Pengamatan (observing)
Guru mengamati proses pendemontrasian alat peraga kelereng yan dilakukan oleh siswa selama proses belajar mengajar.
4. Tahap Refleksi (reflecting)
Guru menganalisis hasil evaluasi siswa
D. TEKNIK DAN INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA
1. Teknik Pengumpulan Data
Tes sebagai salah satu tehnik pengumpulan data digunakan untuk memperoleh data cerminan dari hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan. Tes yang digunakan merupakan tes hasil belajar yang berupa tes tertulis berbentuk obyektif, jenis menjawab soal cerita. Adapun materi tes yan digunakan yaitu menyelasikan soal cerita yang mengandung pengurangan.
2. Alat Pengumpulan Data
Butir soal tes.
E. INDIKATOR KINERJA
Dengan melihat hasil ulangan pada tahun pelajaran sebelumnya, rata-rata nilai ulngan harian pada materi yang diteliti masih rendah ( < 50) maka pada penelitian ini ditetapkan indikator kerja yang digunakan adalah 60.
F. TEKNIK ANALISIS DATA
Data dianalisis dengan menggunakan analisis diskriptif komparatif, yaitu dengan mebandingkan nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kerja.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Quotes Comments Pictures

About Me

Foto saya
Guntur Saleksa, bekerja di SDN Kebonsari I Tuban (paginya) RBS (sorenya) dan bimbel Ganesha Operation (Malamnya). Orang yang cinta Indonesia.. pengen berkarya dan pengen membantu sesama.. karena guntur juga butuh semua.. salam berbagi...
Quotes Comments Pictures

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP